Sula – Ancaman kemarau panjang mulai dirasakan petani hortikultura di Kabupaten Kepulauan Sula. Selain menghadapi kekeringan lahan dan penurunan hasil panen, petani juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar untuk mengoperasikan mesin pompa air.
Salah satu petani hortikultura, Saiful Umawaitina, saat di wawancarai mengatakan kondisi kemarau yang berlangsung sekitar enam bulan membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman.
Menurutnya, sebagian besar petani menggunakan mesin diesel untuk menarik dan memompa air ke lahan pertanian. Namun, ketersediaan solar subsidi di SPBU menjadi kendala yang harus dihadapi.
“Masalahnya, mendapatkan solar subsidi di SPBU sudah susah. Kami petani kebanyakan menggunakan mesin diesel. Apalagi di SPBU hanya tersedia Pertalite dan Pertamax, itu pun lebih banyak untuk pengendara dan nelayan,” kata Saiful.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait memperhatikan kebutuhan solar bagi petani, terutama ketika musim kemarau berlangsung. “Jadi kami berharap ketersediaan solar di SPBU juga diperhatikan untuk petani. Jangan sampai solar justru dijual ke tempat lain, sementara kami kesulitan mendapatkannya. Musim panas begini petani harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli solar,” ucapnya, Selasa 3 November 2026.
Selain persoalan BBM, Saiful mengaku harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk mengatasi kekeringan lahan dengan menerapkan sistem irigasi sprinkler atau penyiraman tanaman menggunakan alat penyemprot air menyerupai hujan buatan.
Sistem tersebut menggunakan jaringan pipa yang dipasang di area perkebunan dan dilengkapi kepala penyemprot (sprinkler) untuk mendistribusikan air secara merata ke tanaman. Untuk membangun sistem penyiraman tersebut, ia mengaku telah menghabiskan biaya sekitar puluhan juta, termasuk pembelian pipa dan perangkat sprinkler yang harus dipesan dari luar daerah.
“Saya membeli pipa baru dan alat sprinkler untuk penyiraman tanaman hortikultura. Biaya yang kami keluarkan sekitar Rp10 juta sampai Rp20 juta, karena alat sprinkler harus dipesan dari luar daerah, belum lagi pipa dan perlengkapan lainnya,” katanya.
Di sisi lain, kemarau panjang juga berdampak langsung terhadap produktivitas tanaman. Saiful menyebut hasil panen sejumlah komoditas hortikultura mengalami penurunan dibandingkan musim hujan. Ia mencontohkan tanaman mentimun yang biasanya mampu menghasilkan hingga 10 kali panen. Namun, dalam kondisi cuaca panas saat ini, tanaman hanya mampu dipanen sekitar tiga hingga empat kali sebelum daunnya menguning dan tanaman tidak lagi produktif.
“Musim panas begini tidak seperti biasanya. Banyak tanaman hortikultura yang mati. Tanaman juga tidak bisa bertahan lama. Misalnya mentimun, biasanya kami bisa panen sampai 10 kali, tetapi sekarang baru tiga sampai empat kali daunnya sudah menguning,” ucapnya.
Meski hasil panen mengalami penurunan, Saiful mengatakan harga jual sejumlah komoditas di pasar masih memberikan harapan bagi petani untuk memperoleh pendapatan.
“Untuk hasil panen tanaman hortikultura saat ini sangat menurun. Beruntung harga barang di pasar masih ada. Walaupun hasil panen turun, tetapi kalau harga bagus, kami masih bisa mendapatkan pendapatan, seperti cabai dan mentimun,” ujarnya.
Sumber: RRI Ternate
































Komentar