Oleh: President Laef
Tulisan ini dipersembahkan untuk Alvino Tour & Travel dan Om Afdal (Om Doel/Dul) di Banda-Naira
“Kalau damai bisa dipotret, mungkin wajahnya seindah Banda Neira.”
SUBUH masih renta ketika KM Sangiang perlahan merapat. Jarum jam baru menunjuk pukul 04.00 WIT. Di luar geladak, gelap belum sepenuhnya menyerah kepada pagi. Lampu-lampu kecil dari daratan berpendar di permukaan laut yang tenang.
Banda Neira ada di depan mata. Dari kejauhan, Gunung Api Banda berdiri seperti penjaga tua. Bayangannya samar diterpa sisa malam. Di seberangnya, pulau-pulau kecil membentuk gugusan yang selama berabad-abad telah menyimpan cerita tentang pala, kolonialisme, pengasingan, cinta, perlawanan, dan kemerdekaan.
Di antara penumpang yang turun pagi itu, ada sekelompok backpacker dari Maluku Utara: President Laef, Directer, Brigith, Anggun, dan Shanen. Mereka datang membawa ransel, kamera, pakaian secukupnya, dan satu keinginan sederhana: menjelajahi Banda Neira.
Perjalanan yang sama juga membawa Mala, Mirda, Ibes, dan Dina, para backpacker dari Pulau Seram dan Ambon.
Mereka datang dari tempat berbeda, tetapi dipertemukan oleh tujuan yang sama: melihat dari dekat sebuah kepulauan yang dahulu menjadi tempat pembuangan orang-orang yang dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial, tetapi kini justru menjadi salah satu nama yang paling menggoda dalam peta perjalanan Indonesia.
Pagi itu, langkah mereka seperti sedang memasuki lorong waktu.
Di jalan-jalan sempit Banda Neira, rumah-rumah tua masih berdiri. Benteng-benteng kolonial menatap laut. Pohon pala tumbuh di tanah yang dahulu membuat bangsa-bangsa Eropa menyeberangi samudra, dan di antara bangunan tua itu terdapat rumah-rumah yang pernah menjadi saksi kehidupan orang-orang buangan, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Iwa Koesoemasoemantri.
Banda adalah tempat yang aneh dalam sejarah Indonesia. Orang-orang datang hari ini untuk berlibur. Tetapi hampir sembilan dekade lalu, Hatta dan Sjahrir datang bukan sebagai pelancong. Mereka datang sebagai orang buangan.
Dari Tanah Pembuangan Menjadi Tanah yang Dirindukan
Pada 11 Februari 1936, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir tiba di Banda setelah sebelumnya dibuang pemerintah kolonial Hindia Belanda ke Boven Digoel. Di Banda, ruang gerak mereka lebih longgar. Mereka dapat berhubungan dengan masyarakat, membaca, menulis, berdiskusi, dan mengajar. (Baca Negeri Rempah)
Banda kemudian menjadi lebih dari sekadar tempat menjalani pengasingan.
Hatta membawa buku-bukunya. Ia membaca, menulis, berdiskusi, dan memberikan pelajaran kepada anak-anak serta pemuda setempat. Dalam keterasingan, pendidikan menjadi salah satu bentuk perlawanannya.
Sjahrir menjalani pengasingan dengan watak yang berbeda. Ia menyukai laut. Ia berlayar, menikmati pulau-pulau kecil dan mengagumi bentang alam Banda. Di rumah pengasingannya, jejak kehidupannya masih dikenang melalui foto, gramofon dan mesin ketik yang berkaitan dengan aktivitasnya menulis surat serta menuangkan gagasan. (Baca Kebudayaan Kemdikbud)
Tetapi ada satu nama yang seolah ikut hadir dalam kesunyian Sjahrir di tanah pembuangan itu, Maria Duchâteau.
Perempuan Belanda itu adalah kekasih dan kemudian istri Sjahrir. Hubungan mereka tumbuh ketika Sjahrir berada di Belanda. Politik kolonial kemudian memisahkan keduanya. Maria kembali ke Belanda, sedangkan Sjahrir menjalani jalan panjang pergerakan, penangkapan dan pengasingan. Penelitian Kees Snoek mencatat ratusan surat yang ditulis Sjahrir kepada Maria, sebagian surat itu kelak menjadi bahan buku Indonesische Overpeinzingen, yang dikenal dalam bahasa Indonesia melalui Renungan Indonesia. (Baca Scholar Hub)
Maka, di balik sosok Sjahrir sebagai seorang pemikir dan pejuang kemerdekaan, terdapat seorang lelaki yang menulis kepada perempuan yang jauh di negeri Belanda.
Surat menjadi jembatan. Melalui surat-surat itulah kerinduan pribadi bertemu dengan renungan tentang manusia, kolonialisme, alam, masyarakat dan tanah air.
Sjahrir seperti membawa Maria berjalan bersamanya melalui kata-kata Ketika matanya melihat laut, ia menulis. Ketika melihat kehidupan masyarakat, ia menulis. Ketika kesepian datang, ia kembali kepada surat.
Jarak Banda dan Belanda terlalu jauh untuk ditempuh tubuh, tetapi tidak untuk pikiran.
Dari pengalaman Sjahrir di tanah pengasingan itulah Banda kemudian lekat dengan sebuah ungkapan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
“Jangan mati sebelum ke Banda Neira.”
Ungkapan tersebut hingga kini populer dan luas dinisbatkan kepada Sutan Sjahrir, seakan menjadi undangan abadi kepada siapa pun untuk sekali saja dalam hidupnya melihat Banda. (Baca Insw API)
Bagi orang yang berdiri di tepian Banda pada pagi hari, kalimat itu terasa mudah dimengerti.
Barangkali Sjahrir melihat apa yang dilihat para backpacker pagi itu, laut yang teduh, Gunung Api Banda yang menjulang, rumah-rumah tua, perahu yang bergerak pelan, dan matahari yang perlahan keluar dari balik gugusan pulau. Keindahan itu menjadi paradoks. Sjahrir dibuang ke Banda agar jauh dari pusat pergerakan, tetapi justru di tempat pembuangan itu pikirannya terus hidup.
Bung Hatta, Buku, dan Anak-Anak Banda
Jika Sjahrir banyak meninggalkan kisah melalui surat dan renungannya, Mohammad Hatta meninggalkan jejak yang kuat melalui buku dan pendidikan.
Bung Hatta memang dikenal sebagai manusia buku.
Di Banda, ia tetap membaca dan menulis. Pengasingan tidak menghentikan kegiatan intelektualnya. Ia bahkan mengajar pemuda-pemuda setempat, dengan pelajaran yang mencakup pengetahuan praktis hingga persoalan politik. (Baca Negeri Rempah)
Rumah pengasingan Hatta hari ini tidak lagi menjadi simbol hukuman. Ia menjadi ruang ingatan.
Orang datang, berdiri di depan bangunannya, melihat meja, ruangan dan peninggalan masa lalu, kemudian mencoba membayangkan seorang lelaki berkacamata yang hidup jauh dari pusat kekuasaan tetapi pikirannya sedang membayangkan sebuah republik yang bahkan belum lahir.
Hatta memang pemalu dalam urusan cinta. Ia baru menikah setelah Indonesia merdeka. Rahmi Rachim menjadi pendamping hidupnya. Kisah perkawinan Hatta bahkan kemudian dikenal karena mas kawinnya yang tidak biasa: bukan emas atau perhiasan, melainkan buku yang ditulisnya, Alam Pikiran Yunani.
Buku bagi Hatta bukan sekadar benda, buku adalah cara hidup, Mungkin karena itulah pengasingan gagal benar-benar mengasingkannya.
Tubuh Hatta boleh ditempatkan di sebuah pulau kecil di Laut Banda, tetapi pikirannya berjalan jauh melampaui laut yang mengepungnya.
Menapak Banda Delapan Puluh Tahun Kemudian
Puluhan tahun berlalu. Tidak ada lagi serdadu kolonial yang mengawasi Hatta dan Sjahrir. Tidak ada lagi pemerintah Hindia Belanda yang mengirim tokoh pergerakan ke Banda sebagai hukuman politik.
Kapal yang merapat sekarang membawa wisatawan.
President Laef, Directer, Brigith, Anggun, dan Shanen berjalan dengan ransel mereka, menyusuri Banda dari satu sudut ke sudut lainnya.
Mala, Mirda, Ibes, dan Dina melakukan hal serupa. Mereka datang bukan membawa agenda politik atau buku-buku pergerakan. Mereka datang untuk explore.
Mengejar matahari terbit. Melihat Gunung Api Banda. Menyusuri lorong-lorong kota tua. Mendatangi benteng peninggalan kolonial. Menatap laut dari ketinggian. Menyeberang dengan perahu. Mencari kebun pala. Mengabadikan bangunan tua. Dan tentu saja, berdiri di depan rumah tempat Bung Hatta dan Sutan Sjahrir pernah menjalani tahun-tahun pengasingannya.
Namun perjalanan ke Banda membuat wisata dan sejarah sulit dipisahkan. Setiap sudut seolah mempunyai cerita.
Pala yang hari ini mungkin hanya dianggap bumbu dapur pernah membawa kapal-kapal Eropa datang ke kepulauan kecil ini. Kekayaan rempah membuat Banda terhubung dengan perdagangan dunia sekaligus mengalami kekerasan kolonial.
Benteng yang sekarang menjadi latar foto wisatawan adalah peninggalan masa ketika kekuasaan asing mengontrol kepulauan ini.
Rumah yang sekarang menjadi tujuan wisata sejarah pernah menjadi tempat orang menjalani hukuman pengasingan. Itulah ironi Banda.
Dahulu orang dipaksa datang ke sini. Sekarang orang menabung agar bisa datang ke sini. Banda adalah ujung perjalanan bagi orang-orang yang hendak dijauhkan dari pusat politik.
Sekarang Banda justru menjadi tujuan perjalanan.
Dahulu kapal membawa orang buangan, hari ini kapal membawa backpacker.
Waktu mengubah cara manusia memandang sebuah tempat, tetapi sejarah membuat tempat itu tidak kehilangan ingatan.
Pulau Kecil dengan Cerita Besar
Matahari semakin tinggi. Banda Neira yang beberapa jam sebelumnya hanya berupa cahaya kecil dari geladak KM Sangiang kini terlihat utuh.
Laut berubah biru, gunung Api Banda semakin jelas, perahu-perahu melintas, aroma kehidupan pagi memenuhi jalan.
Para backpacker dari Maluku Utara, Seram dan Ambon itu melanjutkan perjalanan mereka. Kamera mulai bekerja. Ransel kembali dipanggul. Satu per satu tempat akan didatangi.
Namun barangkali perjalanan terbaik di Banda bukan sekadar tentang berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi.
Banda meminta orang berhenti sejenak. Memandang laut. Menyentuh dinding tua. Membaca nama-nama yang pernah tinggal di sana.
Kemudian membayangkan Februari 1936, ketika dua orang lelaki turun di kepulauan ini sebagai tahanan politik kolonial, satu bernama Mohammad Hatta, satunya lagi Sutan Sjahrir.
Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa puluhan tahun setelah Indonesia merdeka, rumah tempat mereka menjalani pengasingan akan didatangi orang-orang dari berbagai penjuru negeri.
Mereka juga mungkin tak pernah membayangkan bahwa sebuah tanah pembuangan akan menjelma menjadi tanah tujuan.
Tetapi sejarah memang sering bekerja dengan cara yang ganjil.
Belanda mengirim Hatta dan Sjahrir ke Banda untuk menjauhkan mereka. Banda justru membuat jejak keduanya semakin dekat dengan generasi setelahnya, dan Sjahrir, yang dahulu menulis surat kepada Maria dari keterasingan, kini seakan terus berbisik kepada setiap orang yang memandang laut Banda.
“Jangan mati sebelum ke Banda Neira.”
Di dermaga, kapal datang dan pergi. Orang-orang berganti.
Tetapi Banda tetap di sana—dengan pala, laut, gunung api, benteng tua, rumah pengasingan, dan cerita yang tidak pernah selesai.
Jika damai benar-benar bisa dipotret, mungkin wajahnya memang seindah Banda Neira.
Sebuah tempat yang dahulu menjadi hukuman bagi para pejuang. Kini, menjadi tempat yang dirindukan para pelancong.
Penulis: President Laef






























Komentar