Inflasi Maluku Utara Tembus 6,18 Persen, Cabai Rawit Jadi Pemicu

Ternate – INFLASI Provinsi Maluku Utara pada Oktober 2026 mencapai 6,18 persen secara tahunan (year on year/y-on-y). Kenaikan harga cabai rawit, tarif angkutan udara, bensin, cabai merah, hingga ikan cakalang menjadi sejumlah komoditas yang mendorong tingginya inflasi di Maluku Utara.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,71 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 4,93 persen.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid, mengatakan inflasi terjadi di seluruh wilayah yang menjadi sampel penghitungan. Kota Ternate mencatat inflasi tahunan sebesar 6,09 persen, sementara Kabupaten Halmahera Tengah lebih tinggi, yakni 6,50 persen.

Menurut Harim, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di Maluku Utara, baik secara tahunan maupun bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan sebesar 10,46 persen dengan andil 3,56 persen, sedangkan secara bulanan mencapai 1,49 persen dengan andil 0,52 persen.

“Pada Oktober 2026, komoditas utama yang menyumbang inflasi tahunan tertinggi di Provinsi Maluku Utara adalah cabai rawit, tarif angkutan udara, bensin, cabai merah, serta ikan cakalang atau ikan sisik,” ujar Harim dalam rilis perkembangan inflasi Oktober, Senin, 2 November 2026.

Sementara itu, kenaikan harga tomat menjadi pemicu utama inflasi bulanan di Maluku Utara. Selain tomat, kenaikan tarif angkutan udara, cabai merah, cabai rawit, dan ketimun turut memberikan andil terhadap inflasi pada Oktober 2026.

Tekanan inflasi juga terlihat di Kabupaten Halmahera Tengah. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi tahunan sebesar 11,03 persen dan andil 1,56 persen, sedangkan secara bulanan mencapai 3,25 persen dengan andil 1,38 persen.

Di wilayah tersebut, cabai merah menjadi komoditas yang paling dominan mendorong inflasi, baik secara tahunan maupun bulanan. Komoditas lainnya meliputi cabai rawit, bensin, solar, dan ikan cakalang atau ikan sisik untuk inflasi tahunan.

“Untuk Kabupaten Halmahera Tengah, komoditas utama penyumbang inflasi tahunan adalah cabai merah. Sedangkan komoditas penyumbang inflasi dari bulan ke bulan terbesar juga cabai merah,” kata Harim.

Adapun inflasi bulanan di Halmahera Tengah turut dipengaruhi kenaikan harga tomat, lemon, ikan malalugis atau ikan sorihi, serta tarif angkutan antarkota. Kondisi ini menunjukkan kelompok pangan masih memberikan tekanan kuat terhadap perkembangan harga di daerah tersebut.

Meski demikian, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga mampu menahan laju inflasi bulanan di Maluku Utara. Komoditas tersebut antara lain ikan malalugis atau ikan sorihi, ikan kembung, kangkung, ikan tuna, dan cakalang diawetkan.

Kondisi serupa terjadi di Halmahera Tengah. Penurunan harga ketimun, ikan kembung, minyak goreng, ikan selar atau ikan tude, serta bawang putih turut memberikan andil dalam menahan tekanan inflasi bulanan di Halmahera Tengah.


Sumber: RRI Ternate

nama-iklan

Komentar