Ternate – Harga cabai rawit (rica nona) di Kota Ternate sempat menembus angka Rp190.000 hingga Rp200.000 per kilogram akibat menipisnya pasokan dari wilayah penyuplai seperti Manado dan Gorontalo. Tingginya harga ini menjadi pemicu utama melonjaknya inflasi di Provinsi Maluku Utara yang mencapai 6,18%.
Berikut adalah kondisi terkini dan langkah penanganan terkait lonjakan harga komoditas tersebut:
Pergerakan Harga di Pasar vs Intervensi Pemerintah
• Harga di Pasar Tradisional: Di sejumlah pasar seperti Pasar Barito Gamalama dan Pasar Bastiong, harga eceran cabai rawit sempat tertahan di kisaran Rp140.000 hingga Rp190.000 per kilogram, namun kini perlahan berangsur turun ke level Rp130.000 per kilogram seiring masuknya pasokan baru.
• Operasi Pasar Murah: Menindaklanjuti arahan Gubernur Maluku Utara, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag Provinsi Maluku Utara) bersama Bank Indonesia menggelar Gerakan Pangan Murah selama enam hari. Di pasar murah ini, cabai rawit disubsidi dan dijual seharga Rp90.000 hingga Rp110.000 per kilogram.
• Kendala Logistik: Untuk menekan harga, pemerintah mendatangkan pasokan cabai hingga 7 ton dari Malang, Jawa Timur melalui jalur udara dan laut. Namun, program ini sempat menuai sorotan warga karena sebagian komoditas mengalami penurunan kualitas (membusuk) akibat kendala penanganan pascapanen selama perjalanan jauh.
Faktor Penyebab Utama Kenaikan
1. Gagal Panen di Sentra Produksi: Cuaca buruk dan gangguan iklim di daerah produsen memicu terjadinya gagal panen, yang secara otomatis memotong volume pasokan yang masuk ke Ternate.
2. Ketergantungan Pasokan Luar Daerah: Sebagai daerah kepulauan, Ternate sangat bergantung pada pasokan hortikultura dari luar provinsi seperti Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Jawa Timur, sehingga harga sangat sensitif terhadap biaya logistik serta kelancaran transportasi laut dan udara.
(Foto: Disperindag Kota Ternate/HarianMalut)



































Komentar