Di Bawah Terpal Pengungsian, Warga Totala Jaya Menanti Janji yang Tak Kunjung Datang

Korban Banjir Totala Jaya, Urus Ollo -Tokoh Masyarakat, (Foto:Tim/HM).

Halbar — Hujan deras yang mengguyur Desa Totala Jaya, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Provinsi Maluku Utara (Malut), pada malam Senin (7/1) lalu, bukan hanya membawa air bah dan longsoran tanah. Ia juga menyeret pergi rumah-rumah, rasa aman, dan harapan ratusan warga yang hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian.

Empat bulan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor itu terjadi, jejak kehancuran masih tampak jelas di desa tersebut. Sebanyak 26 rumah dilaporkan rusak parah. Dua bangunan gereja ikut terdampak, demikian pula fasilitas pendidikan dan dua unit rumah guru yang tak lagi layak ditempati.

Di lokasi pengungsian mandiri, lembaran terpal menjadi atap darurat bagi keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Saat hujan turun, suara tetes air menembus sela-sela tenda seolah mengingatkan bahwa mereka belum benar-benar selamat.

Air bersih terbatas. Obat-obatan sulit didapat. Kebutuhan pokok makin menipis.

“Memang pascabencana ada bantuan yang masuk, namun sekarang kurang lebih satu bulan bantuan sudah dihentikan, kehadiran pemerintah juga sudah tidak ada,” ucap Urus Ollo dengan mata berkaca-kaca, salah satu korban yang mengungsi di Balai Desa, Kamis (30/4/2026).

“Kami hanya mengandalkan kebaikan tetangga dan relawan swadaya. Kami merasa ditinggalkan,” lanjutnya

Keluhan itu bukan suara tunggal. Di sudut pengungsian, para orang tua menyimpan kecemasan yang sama: kesehatan anak-anak mereka. Cuaca yang tak menentu, sanitasi seadanya, dan keterbatasan layanan kesehatan membuat rasa khawatir terus membesar dari hari ke hari.

Warga juga menyoroti minimnya kehadiran Pemerintah Daerah. Menurut mereka, perhatian Pemda Halmahera Barat semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Bahkan di lokasi relokasi maupun pengungsian mandiri, warga mengaku jarang melihat pejabat datang meninjau kondisi mereka.

Harapan kini diarahkan kepada Pemerintah Provinsi Maluku Utara agar segera turun tangan, terutama untuk mempercepat pembangunan rumah di lokasi relokasi. Bagi warga, tempat tinggal yang layak jauh lebih mendesak daripada sekadar janji bantuan.

“Mereka sibuk dengan urusan sendiri. Saat butuh suara, mereka datang ke rumah-rumah, saat kami terkena musibah, mereka menghilang,” kata seorang warga lainnya dengan nada kecewa.

Bagi masyarakat Totala Jaya, waktu terasa berjalan lambat. Setiap malam di bawah terpal adalah penantian panjang—menunggu rumah dibangun, bantuan datang, dan perhatian pemerintah yang seharusnya hadir sejak awal.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Daerah terkait keterlambatan penyaluran bantuan maupun kepastian pembangunan hunian tetap bagi para korban. Sementara itu, warga Totala Jaya hanya bisa bertahan, sembari berharap hujan berikutnya tidak membawa luka baru.


Reporter: Pres

nama-iklan

Komentar