Festival Budaya Suku Sahu Jadi Pengingat Tradisi Tak Tergilas Zaman

Foto bersma para peserta lomba dan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, (Foto:MY/HM).

Halbar — Festival Budaya Tradisional Suku Sahu yang diselenggarakan Sanggar U’a Re Awali bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku Utara resmi digelar di Desa Idamgamlamo, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Kamis (29/10/2026).

Festival ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pelestarian budaya dan adat istiadat Suku Sahu di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Ketua Panitia, Alhendri Fara, S.H., M.H., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menjaga eksistensi budaya adat Suku Sahu agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda, khususnya tradisi Tarian Legu Salai dan busana adat.

Menurutnya, perkembangan teknologi membawa berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat, termasuk cara generasi muda berinteraksi, memperoleh informasi, dan mengenal kebudayaan. Karena itu, pelestarian tradisi perlu dilakukan secara nyata agar budaya lokal tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.

“Intinya, maksud dan tujuan kegiatan Festival ini adalah menjaga dan menjadi tembok terhadap ancaman dan pengaruh AI dan teknologi terhadap eksistensi Budaya Adat Suku Sahu, khususnya Tarian Legu Salai dan Busana Adat Suku Sahu, karena budaya adalah identitas kita,” ujar Alhendri.

Ia menegaskan, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Suku Sahu kepada masyarakat yang lebih luas, tanpa menghilangkan nilai, makna, dan keaslian budaya yang diwariskan leluhur.

Festival tersebut diikuti 16 peserta dalam lomba busana adat Suku Sahu dan enam regu dalam lomba Tarian Legu Salai. Para peserta merupakan utusan sanggar seni dan sekolah yang turut mengambil bagian dalam upaya menjaga keberlangsungan tradisi daerah.

Keterlibatan sanggar dan sekolah menjadi bagian penting dalam proses pewarisan budaya. Melalui ruang-ruang seperti ini, generasi muda tidak hanya mengenal busana adat dan tarian tradisional sebagai pertunjukan, tetapi juga memahami keduanya sebagai bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Sahu.

Wakil Bupati Halmahera Barat, Djufri Muhammad, dalam sambutannya menekankan pentingnya pelestarian adat untuk merawat keberagaman dan menjaga peninggalan leluhur agar tidak punah.

“Peninggalan leluhur harus dirawat, jangan sampai peninggalan ini punah. Maka, cara terbaik adalah melestarikannya, baik tampil dengan busana adat, bahasa, dan ritual adat,” ujar Djufri.

Ia menilai, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama, baik pemerintah, komunitas adat, lembaga kebudayaan, maupun generasi muda. Dengan demikian, warisan leluhur dapat terus hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tengah dinamika pembangunan

Sementara itu, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Linda Agustin Hidayati, menyampaikan bahwa Kabupaten Halmahera Barat merupakan salah satu daerah yang menyumbangkan banyak warisan budaya di Provinsi Maluku Utara.

“Maluku Utara telah menetapkan 87 warisan budaya tak benda dan Kabupaten Halmahera Barat lebih dari 14 yang berasal dari Suku Sahu,” ungkap Linda.

Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya kontribusi masyarakat Sahu terhadap kekayaan budaya Maluku Utara. Warisan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilindungi dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, Festival Budaya Tradisional Suku Sahu menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus menghapus tradisi. Perubahan zaman memang tidak dapat dihindari, tetapi identitas budaya tetap dapat dipertahankan melalui pendidikan, praktik adat, kegiatan seni, dan keterlibatan aktif generasi muda.

Bagi masyarakat Sahu, mempertahankan Tarian Legu Salai, busana adat, bahasa, dan ritual leluhur bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu. Upaya tersebut merupakan cara untuk memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap hadir dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

Suku Sahu boleh berjalan mengikuti kemajuan zaman, tetapi tidak harus kehilangan jati dirinya. Festival ini menjadi pesan bahwa tradisi Suku Sahu tetap hidup, tumbuh, dan diwariskan—sebuah penegasan bahwa Suku Sahu tidak pernah tergilas zaman.


Reporter: Pres

nama-iklan

Komentar