
Halbar — SMP Negeri 15 Halmahera Barat, Maluku Utara kembali menjadi perbincangan publik. Kali ini, sorotan tertuju pada dugaan tindakan kasar seorang oknum kepala sekolah terhadap pedagang keliling yang berjualan di luar pagar sekolah.
Insiden itu disebut terjadi pada Senin, (27/4/2026), sesaat setelah kegiatan belajar mengajar usai. Seorang pedagang cemilan pentolan keliling datang menjajakan dagangannya di area luar pagar sekolah. Menurut keterangan sejumlah siswa, pedagang tersebut tidak berjualan saat jam pelajaran maupun waktu istirahat berlangsung.
Namun situasi berubah ketika kepala sekolah berinisial AY diduga mendatangi pedagang tersebut dan mengusirnya dengan nada tinggi. Peristiwa itu terjadi di hadapan para siswa serta beberapa guru yang masih berada di lingkungan sekolah.
“Pak Kepsek usir penjual pentolan. Bilang tidak boleh jualan di situ, padahal jualannya di luar pagar dan jauh dari ruang kelas,” ujar salah satu siswa kepada wartawan.
Tak berhenti di situ, AY juga diduga melontarkan ancaman akan merusak gerobak pedagang apabila tetap berjualan di sekitar lokasi sekolah.
“Kepsek ancam mau rusak gerobak,” kata siswa lainnya.
Bagi para siswa, pedagang tersebut bukan sosok asing. Ia disebut kerap datang setelah jam pulang sekolah, saat halaman mulai lengang dan aktivitas belajar telah selesai. Karena itu, banyak siswa menilai kehadirannya tidak mengganggu proses pendidikan.
Rasa iba pun muncul setelah melihat pedagang itu dimarahi. Sejumlah siswa kemudian berinisiatif mengumpulkan uang secara sukarela untuk membeli dagangan yang masih tersisa.
“Torang (kami) kasihan, jadi patungan dapat Rp25 ribu lalu beli pentolan,” tutur seorang siswa.
Peristiwa ini memantik perhatian warga dan orang tua siswa. Banyak yang menilai, jika benar terjadi, pendekatan yang dilakukan pihak sekolah semestinya lebih humanis dan mengedepankan etika, terlebih terhadap masyarakat kecil yang sedang mencari nafkah.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMP Negeri 15 Halmahera Barat belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan insiden tersebut.
Reporter: Pres











Komentar