Dokter Victor Ingatkan Pentingnya Data dalam Kebijakan Stunting

Dinkes Malut8 Dilihat

Sofifi – Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Maluku Utara, dr. Victor, menegaskan pentingnya memperkuat implementasi Spotlight Program Prioritas yang digagas Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Wihaji. Program tersebut dinilai menjadi instrumen strategis dalam mempercepat penanganan berbagai persoalan kependudukan, termasuk stunting.

Hal itu disampaikan dr. Victor saat melantik Jabatan Fungsional (JF) Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) di Sofifi, Rabu 4 Maret 2026.

Dalam arahannya, ia menekankan bahwa kekuatan utama BKKBN terletak pada kekayaan data yang dimiliki. Namun demikian, ia mengingatkan agar penggunaan data dalam pengambilan kebijakan dilakukan secara tepat.

Menurutnya, tidak semua jenis data dapat digunakan untuk melakukan intervensi program di lapangan.

“Apakah bisa menggunakan data survei untuk melakukan intervensi? Tidak. Yang digunakan haruslah data surveilans, terutama untuk kasus stunting,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemahaman mengenai perbedaan antara data survei dan data surveilans sangat penting agar kebijakan dan strategi yang diambil tidak bias dalam implementasi.

Mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, definisi stunting saat ini mencakup anak usia dua hingga lima tahun. dr. Victor juga meluruskan persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa stunting semata-mata disebabkan oleh kekurangan makanan.

Menurutnya, stunting merupakan persoalan multifaktoral yang dipengaruhi tiga aspek utama, yakni suboptimal nutrition, suboptimal health, dan suboptimal parenting.

“Parenting berperan sangat penting. Kita perlu memberikan edukasi dan advokasi berbasis data agar tidak hanya banyak bicara tanpa makna,” kata Victor.

Ia juga mengungkapkan bahwa faktor spesifik seperti gizi dan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 30 persen terhadap kasus stunting. Sementara 70 persen lainnya dipengaruhi faktor sensitif yang berkaitan dengan kondisi lingkungan.

Hal ini sejalan dengan gerakan ASRI yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan layak bagi tumbuh kembang anak.

dr. Victor turut mengapresiasi visi pembangunan Presiden Prabowo melalui program Asta Cita yang memberi perhatian besar kepada kelompok ibu hamil, ibu pasca persalinan, dan balita atau dikenal sebagai kelompok 3B.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi salah satu instrumen utama untuk meningkatkan kualitas gizi kelompok tersebut.

Di Maluku Utara, program MBG saat ini telah menjangkau 10 kabupaten/kota. Ia menyarankan agar data Pendataan Keluarga (PK) milik BKKBN dijadikan acuan utama dalam pelaksanaan intervensi program tersebut karena dinilai memiliki basis data yang lengkap.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya verifikasi ulang di lapangan agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran.

Selain itu, kehadiran BKKBN di setiap provinsi juga berperan dalam menyinergikan kebijakan pemerintah pusat hingga ke daerah melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK), baik fisik maupun nonfisik.

Dengan koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah, ia optimistis visi-misi pemerintahan Prabowo-Gibran dalam menurunkan angka stunting dapat tercapai secara efektif dan efisien.

“Cepatlah mendengar, lambatlah berkata-kata. Agar kita tidak salah menyimpulkan antara stunting dan gizi buruk, sehingga strategi yang dijalankan benar-benar berdampak,” ucap dr. Victor.


Sumber: RRI Ternate

nama-iklan

Komentar