Ternate – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Maluku Utara meminta penyelenggara dan para pemangku kepentingan segera melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut. Program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak itu dinilai belum berjalan maksimal, terutama dalam aspek kualitas gizi, keamanan pangan, dan manajemen penyajian makanan.
Permintaan ini muncul setelah Persagi menemukan sejumlah catatan di lapangan yang perlu segera dibenahi. Evaluasi menyeluruh dianggap penting agar tujuan program untuk meningkatkan status gizi anak benar-benar tercapai secara efektif dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Persagi Maluku Utara, Siti Salmiah, di Ternate. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya pengawasan dan keterlibatan berbagai pihak dalam memastikan standar gizi terpenuhi.
Menurut Siti, sebelum program MBG diluncurkan, Persagi telah dilibatkan dalam tahap awal perencanaan. Namun, ia menilai sejumlah ketentuan dalam petunjuk teknis (juknis) belum sepenuhnya diterapkan secara optimal di lapangan.
“Perlunya evaluasi yang tidak hanya dilakukan secara internal agar hasilnya lebih objektif,” ujar Siti, Selasa, 3 Maret 2026. Ia menegaskan, evaluasi independen menjadi langkah penting untuk melihat secara jujur berbagai kekurangan yang masih terjadi.
Dengan evaluasi terbuka, diharapkan program MBG dapat disempurnakan. Baik dari sisi perencanaan menu, distribusi, hingga pengawasan mutu makanan yang diberikan kepada anak-anak.
Siti menambahkan, Persagi akan berkoordinasi dengan kalangan dosen dan akademisi untuk melakukan evaluasi eksternal. Karena itu, pihaknya berharap penyelenggara program dapat membuka akses bagi Persagi guna menilai langsung aspek menu, ketahanan pangan, hingga sistem penyimpanan makanan.
Ia mencontohkan penyajian telur rebus yang hampir setiap hari diberikan kepada siswa. Menurutnya, menu tersebut tidak ideal jika disimpan dalam waktu lama karena berpotensi menurunkan kualitas dan keamanan pangan.
Persagi Maluku Utara berharap diskusi terbuka dan evaluasi berkelanjutan dapat terus dilakukan. Pasalnya, program MBG menyangkut kepentingan masyarakat luas serta masa depan generasi muda.
Dengan perbaikan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, program ini diharapkan benar-benar mampu menjaga asupan gizi anak. Termasuk selama menjalankan ibadah puasa.
Sumber: RRI Ternate































Komentar