
Sorong – Temu Raya Persekutuan Anggota Muda (PAM) Gereja Kristen Injili (GKI) ke-V se-Tanah Papua yang berlangsung di Klasis Malamoi, Kabupaten Sorong, pada 13–15 Juli 2026 menyerukan pentingnya peran pemuda dalam menjaga ruang hidup masyarakat adat dan kelestarian lingkungan di Tanah Papua.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Milikilah hikmat dan pengertian supaya engkau hidup” yang diambil dari Amsal 4:5–6.” Dalam pernyataan yang disampaikan pada penutupan kegiatan, peserta menilai hikmat dan pengertian perlu diwujudkan dalam kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan yang dihadapi masyarakat Papua.
Menurut pernyataan itu, Papua saat ini menghadapi berbagai tantangan, antara lain krisis lingkungan serta berkurangnya ruang hidup masyarakat adat akibat alih fungsi hutan untuk kepentingan investasi, termasuk proyek yang disebut sebagai bagian dari Program Strategis Nasional (PSN).
PAM GKI menyatakan spiritualitas pemuda tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan di lingkungan gereja, tetapi juga melalui kepedulian terhadap pelestarian alam dan keberpihakan kepada masyarakat adat. Organisasi tersebut juga mengajak generasi muda membangun karakter untuk menghadapi perubahan global dengan tetap menjaga keadilan sosial dan lingkungan.
Dalam pernyataannya, PAM GKI mendorong pemuda menjadi garda terdepan dalam literasi, advokasi, serta pelestarian budaya dan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masa depan Papua.
Penutupan Temu Raya V PAM GKI berlangsung khidmat dengan penyalaan 1.000 lilin. Aksi simbolis tersebut disebut sebagai wujud harapan bagi Tanah Papua sekaligus bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat yang menghadapi persoalan ruang hidup dan kerusakan lingkungan.
Penyalaan lilin juga menjadi penegasan komitmen pemuda GKI untuk berperan sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian alam dan kehidupan masyarakat di Tanah Papua.
Reporter: Pres
































Komentar