Ternate – Peta elektabilitas calon Wali Kota Ternate lima tahun mendatang menunjukkan konfigurasi yang dinamis. Survei terbaru Litbang HalmaheraPost menempatkan Rizal Marsaoly di posisi teratas dengan dukungan 29,3 persen.
Namun, pertarungan belum sepenuhnya terkunci. Pemilih Generasi Z (Gen Z) menjadi variabel penentu yang berpotensi mengubah arah kontestasi.
Direktur Litbang HalmaheraPost, Jufri Abubakar, mengatakan keunggulan Rizal bukan semata pada angka tertinggi, melainkan pada distribusi dukungan yang relatif merata di lintas generasi.
“Rizal punya keunggulan karena distribusi dukungannya stabil di semua segmen usia. Dalam politik lokal, stabilitas lintas generasi bisa lebih menentukan dibanding lonjakan di satu segmen saja,” ujar Jufri, Sabtu (28/2/2026).
Rizal mencatat capaian tertinggi di kalangan Milenial sebesar 30,7 persen dan Gen Z 29,4 persen.
Di kalangan Baby Boomers, elektabilitasnya sedikit lebih rendah, 27,5 persen, namun tetap memimpin dibanding kandidat lain.
Pola ini menunjukkan positioning politik Rizal yang dinilai mampu menembus sekat demografis, baik pemilih senior maupun generasi muda.
Di posisi kedua, Abubakar Abdullah meraih 21,3 persen dukungan.
Basis terkuatnya berada pada pemilih yang lebih matang secara politik. Ia memperoleh 24,4 persen di Milenial dan 23,5 persen di Baby Boomers.
Namun, di kalangan Gen Z, elektabilitas Abubakar hanya 16,2 persen terpaut cukup jauh dari Rizal.
Menurut Jufri, celah ini berpotensi menjadi titik lemah.
“Kalau tidak ada reposisi narasi untuk Gen Z baik dari sisi isu, medium kampanye, maupun figur pendukung jarak ini sulit dikejar. Gen Z bukan sekadar kategori usia, tetapi soal cara pandang dan gaya komunikasi,” ujarnya.
Sementara itu, Nasri Abubakar mencatat elektabilitas 15 persen dengan sebaran relatif merata di seluruh generasi, berkisar 14,7–15,7 persen.
Pola ini menandakan basis loyal yang cukup solid, meski belum cukup untuk menembus dua besar.
Adapun Erwin Umar meraih 12,8 persen dan menunjukkan pola dukungan yang tak lazim. Ia relatif kuat di Baby Boomers (15,7 persen) dan Gen Z (14,7 persen), namun lebih lemah di Gen X dan Milenial.
“Erwin punya irisan menarik antara pemilih tua dan muda. Ini jarang terjadi. Tapi tanpa penguatan di segmen tengah, sulit baginya untuk naik kelas secara elektoral,” kata Jufri.
Temuan paling mencolok dalam survei ini adalah tingginya angka pemilih belum menentukan pilihan (undecided voters) di kalangan Gen Z, yakni 9,3 persen.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding Milenial (2,1 persen), Gen X (3,4 persen), dan Baby Boomers (2,8 persen).
Bagi Litbang HalmaheraPost, situasi ini menjadi alarm sekaligus peluang. Dalam kontestasi dengan selisih di bawah 10 persen, suara Gen Z yang belum terdistribusi bisa menjadi penentu akhir.
“Hampir 10 persen Gen Z belum menentukan pilihan. Kandidat yang mampu membaca keresahan dan aspirasi mereka secara autentik akan mendapat insentif elektoral signifikan,” ujar Jufri.
Ia menambahkan, Gen Z cenderung rasional, cair, dan tidak terikat patronase tradisional. Pendekatan berbasis program konkret, transparansi, serta kedekatan dengan isu sosial dinilai lebih efektif ketimbang mobilisasi konvensional.
Sementara itu, Merlisa Marsaoly berada di angka 7 persen dan Husni Bopeng di 5 persen. Keduanya dinilai perlu memperluas penetrasi di kalangan Gen X dan Milenial untuk menjaga relevansi elektoral.
Secara keseluruhan, kontestasi menuju Pilkada Ternate masih terbuka. Rizal Marsaoly diuntungkan oleh distribusi dukungan yang merata.
Namun, komposisi pemilih yang belum menentukan pilihan terutama di Gen Z membuat dinamika politik lima tahun ke depan belum dapat dipastikan.
“Dalam politik, yang unggul hari ini belum tentu menang besok. Dengan komposisi undecided yang masih signifikan, ruang perubahan tetap terbuka,” pungkas Jufri.
Sumber: TernateHits











Komentar