Napak Tilas GMKI, Antara Romantisme Sejarah dan Krisis Literasi Kader

Opini105 Dilihat

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) lahir bukan dari ruang kosong sejarah. Ia berdiri pada 9 Februari 1950 sebagai respons atas kebutuhan zaman: membangun kader intelektual Kristen yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan pengabdian. Dalam konteks pasca-kemerdekaan, GMKI hadir sebagai wadah pembentukan manusia Indonesia yang utuh—berpikir kritis, berkarakter, dan berkomitmen pada keadilan sosial.

Namun, ketika kita melakukan “napak tilas” terhadap perjalanan GMKI hari ini, muncul pertanyaan yang tidak nyaman: apakah GMKI masih setia pada roh kelahirannya, atau justru terjebak dalam romantisme sejarah tanpa substansi?

Jejak Sejarah dan Tujuan Awal

Sejak awal, GMKI memposisikan diri sebagai organisasi kader, bukan sekadar organisasi massa. Tujuannya jelas: mencetak intelektual Kristen yang mampu menjadi “garam dan terang dunia” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diskursus, tradisi membaca, serta dialektika pemikiran menjadi fondasi utama gerakan.

GMKI dulu dikenal sebagai ruang intelektual yang hidup. Forum diskusi bukan formalitas, melainkan arena pertarungan gagasan. Buku bukan pajangan, melainkan senjata perjuangan. Kader tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga matang secara intelektual.

Krisis Literasi: Gejala yang Mengkhawatirkan

Realitas hari ini menunjukkan gejala yang berbeda. Salah satu kritik paling mendasar adalah minimnya literasi di kalangan kader. Tradisi membaca dan menulis mulai tergeser oleh budaya instan dan seremonial. Diskusi sering kali kehilangan kedalaman, bahkan cenderung normatif tanpa basis teori yang kuat.

Kader lebih sibuk dengan agenda kegiatan daripada proses berpikir. Akibatnya, GMKI berisiko kehilangan identitasnya sebagai organisasi kader intelektual dan berubah menjadi organisasi event organizer semata.

Minimnya literasi ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut arah perjuangan. Tanpa basis pengetahuan yang kuat, kader akan mudah terombang-ambing oleh isu-isu sesaat tanpa kemampuan analisis yang tajam.

Pergeseran Arah Perjuangan

Di era kekinian, GMKI memang tidak bisa dilepaskan dari isu sosial, politik, dan kampus. Namun persoalannya bukan pada keterlibatan itu, melainkan pada cara berpikir yang mendasarinya.

Banyak kader terjebak pada aktivisme pragmatis—reaktif terhadap isu, tetapi minim refleksi. Isu sosial direspons tanpa kajian mendalam. Politik dipahami sebatas perebutan posisi, bukan sebagai arena perjuangan nilai. Kampus dijadikan ruang eksistensi, bukan laboratorium pemikiran.

Alih-alih menjadi agen perubahan, kader justru berisiko menjadi bagian dari arus besar tanpa arah. Ini menunjukkan adanya degradasi dalam cara berpikir: dari reflektif-kritis menjadi instan-pragmatis.

Antara Adaptasi dan Kehilangan Jati Diri

Tidak bisa dipungkiri, perubahan zaman menuntut adaptasi. Era digital membawa dinamika baru dalam cara belajar, berorganisasi, dan berjuang. Namun adaptasi tidak boleh mengorbankan substansi.

Masalahnya, GMKI hari ini cenderung lebih cepat beradaptasi secara teknis daripada secara intelektual. Media sosial ramai, tetapi ruang baca sepi. Narasi lantang, tetapi argumen dangkal.

Jika kondisi ini dibiarkan, GMKI berpotensi kehilangan jati dirinya. Ia akan tetap ada secara struktural, tetapi kosong secara ideologis.

Jalan Pulang: Menghidupkan Kembali Tradisi Intelektual

Napak tilas seharusnya bukan sekadar mengenang, tetapi menjadi refleksi untuk kembali ke akar. GMKI perlu menghidupkan kembali tradisi literasi sebagai fondasi gerakan.

Beberapa langkah yang bisa dipikirkan:

– Menguatkan budaya membaca dan menulis sebagai kewajiban kader, bukan pilihan.

– Menghidupkan forum diskusi yang berbasis teori dan realitas.

– Mendorong kader untuk tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga produktif secara intelektual.

– Menjadikan isu sosial, politik, dan kampus sebagai objek kajian, bukan sekadar panggung aksi.

Penutup

GMKI tidak kekurangan sejarah besar, tetapi sedang menghadapi tantangan besar. Pilihannya sederhana: tetap terjebak dalam romantisme masa lalu atau berani kembali pada ruh awal perjuangan.

Napak tilas sejati bukan berjalan mundur, tetapi melangkah maju dengan kesadaran sejarah. Tanpa literasi, GMKI akan kehilangan arah. Tanpa refleksi, perjuangan hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna.


Penulis: Chelsia Djurumudi (Kader GMKI Cabang Tobelo) 

nama-iklan

Komentar