Baru-baru ini, narasi mengenai Maluku Utara sebagai “tulang punggung” transisi energi global kembali mencuat. Angka pertumbuhan ekonomi yang fantastis mencapai 30% lebih menurut data BPS seringkali dijadikan tameng pembenaran bahwa eksploitasi nikel di bumi Moloku Kie Raha adalah sebuah keberhasilan mutlak. Namun, jika kita mau sedikit menunduk dan melihat debu di kaki para petani dan nelayan, narasi “sukses” ini sebenarnya menyimpan paradoks yang menyakitkan.
Sebagai mahasiswa yang mendalami seluk-beluk bumi, saya melihat ada lubang besar dalam logika transisi energi yang saat ini dijalankan.
Pertumbuhan Ekonomi vs Kesejahteraan Rakyat
Angka pertumbuhan ekonomi 34,58% di triwulan I 2025 mungkin terlihat hebat di atas kertas laporan kementerian di Jakarta. Namun, apakah angka tersebut linier dengan penurunan angka kemiskinan di Halmahera Tengah atau Halmahera Timur? Faktanya, ketimpangan sosial justru makin menganga.
Kita sering membanggakan Maluku Utara sebagai pusat energi bersih masa depan karena nikelnya digunakan untuk baterai kendaraan listrik. Tapi ironisnya, proses hilirisasi di smelter-smelter kita masih sangat bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara. Kita mengklaim sedang menyelamatkan dunia dari emisi karbon, padahal di tanah kita sendiri, kita sedang menumpuk polusi untuk memproduksi label “hijau” tersebut. Ini bukan transisi energi, ini hanyalah pemindahan beban kerusakan lingkungan.
Ilusi “Energy Justice”
Banyak yang berbicara tentang energy justice atau keadilan energi. Namun, keadilan seperti apa yang dimaksud jika masyarakat lokal hanya mendapatkan sisa-sisa debu jalanan dan rusaknya ekosistem pesisir? Transisi energi yang adil seharusnya memastikan bahwa ruang hidup rakyat tidak dikorbankan demi kepentingan korporasi global.
Potensi panas bumi sebesar 1.144 MW di Maluku yang sering digembar-gemborkan pun hingga kini masih sebatas angka statistik. Kita punya potensi energi terbarukan yang melimpah, namun kebijakan kita justru masih “kecanduan” pada industri ekstraktif yang sifatnya non-renewable (tidak terbarukan). Nikel akan habis pada masanya, dan jika itu terjadi, apa yang tersisa bagi generasi masa depan Maluku Utara selain lubang-lubang raksasa yang menganga?
Peran Mahasiswa: Bukan Sekadar Pengamat
Generasi muda, terutama mahasiswa, tidak boleh terlena dengan pujian bahwa kita adalah “pusat dunia”. Kita harus menjadi pengkritik paling keras terhadap kebijakan yang hanya mengejar investasi tapi mengabaikan kedaulatan rakyat atas tanahnya.
Kita butuh riset yang tidak hanya bicara tentang cara menambang yang efisien, tapi bagaimana memulihkan lingkungan yang telah rusak. Kita butuh advokasi yang memastikan bahwa setiap sen dari kekayaan alam ini benar-benar kembali untuk membangun infrastruktur pendidikan dan kesehatan yang layak di pelosok desa, bukan hanya mempercantik kawasan industri.
Maluku Utara jangan hanya mau dijadikan “lumbung bahan baku” yang diperas habis-habisan. Jika transisi energi hari ini tidak mampu menjawab persoalan kemiskinan dan kerusakan lingkungan di depan mata, maka itu bukanlah sebuah kemajuan, melainkan bentuk penjajahan baru dengan kemasan teknologi hijau.
Sudah saatnya kita berhenti terpukau pada angka-angka pertumbuhan dan mulai menanyakan: Untuk siapa sebenarnya nikel ini digali?
Oleh: Muhammad Zikri











Komentar