“Green Colonialism” Mengancam Telaga Rano, Suku Sahu Lawan Proyek Geothermal

Agenda Nobar Film Dokumenter Pesta Babi dan Diskusi terkait masuknya Geothermal di Telaga Rano, (Foto:TB/HM).

Halbar — Ratusan warga menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang dirangkaikan dengan diskusi bertema Green Colonialism di kawasan Telaga Rano, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi atas kemiripan perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dengan masyarakat adat Suku Sahu yang saat ini menolak rencana eksploitasi geothermal di wilayah Telaga Rano, Rabu (27/5/2026).

Kegiatan nobar dan diskusi berlangsung dari pukul 19.00 (7 Malam) WIT hingga pukul 2.48 WIT yang dihadiri oleh keterwakilan 6 Desa di Hamente, Tokoh Pemuda Loloda, Tokoh Pemuda Ibu Gamkonora, Tokoh Pemuda Wayoli, Semahabar Kota Ternate, Komunitas HPHT, Komunitas Lentera Sahu, Komunitas Rakara, FMPT, Mahasiswa, D’pata Coffe, GmnI Halbar, HIPMI Halbar, DPW Brinus Malut, Jurnalis, dan seluruh masyarakat Desa Gamsungi ini berlangsung khidmat.

Film Pesta Babi yang diputar dalam kegiatan itu menggambarkan perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dalam mempertahankan ruang hidup mereka dari ancaman perampasan tanah dan eksploitasi atas nama pembangunan. Narasi tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kondisi yang dihadapi masyarakat adat Sahu di Halbar.

Diskusi dipantik oleh Anggota DPRD Halmahera Barat, Herman Sidete yang menyoroti praktik green colonialism atau kolonialisme hijau, yakni eksploitasi sumber daya atas nama energi bersih namun berpotensi mengorbankan hak-hak masyarakat adat.

Menurut Herman, pembangunan energi baru terbarukan tidak boleh mengabaikan keberadaan masyarakat adat yang telah lama hidup dan menjaga kawasan Telaga Rano.

“Pembangunan dengan label hijau jangan sampai justru menjadi bentuk baru penjajahan terhadap masyarakat adat. Negara dan perusahaan harus mendengar suara masyarakat yang hidup dan bergantung pada ruang itu,” ujarnya dalam diskusi.

Ia menilai perjuangan masyarakat Papua Selatan dan masyarakat adat Sahu memiliki kesamaan, yakni mempertahankan tanah, hutan, dan sumber kehidupan dari ancaman eksploitasi yang datang atas nama investasi dan pembangunan.

Sementara itu, tokoh pemuda Desa Gamsungi, Osfaldo Kristofel Beno menyerukan agar gerakan penolakan terhadap proyek geothermal di Telaga Rano terus digaungkan oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Osfaldo mengatakan Telaga Rano bukan sekadar kawasan biasa, melainkan bagian dari identitas, sejarah, dan ruang hidup masyarakat adat Sahu yang harus dijaga bersama.

“Kami tidak boleh diam. Penolakan terhadap geothermal di Telaga Rano harus terus disuarakan, karena ini menyangkut masa depan tanah adat dan lingkungan hidup masyarakat Sahu,” tegasnya.

Ia juga mengajak pemuda di Halmahera Barat untuk memperkuat solidaritas bersama masyarakat adat di berbagai daerah yang mengalami persoalan serupa akibat ekspansi investasi.

“Kami tidak tau secara teori soal kerusakan lingkungan, yang kami tau adalah tanah leluhur kita harus tetap dijaga,” lanjutnya.

Sementara itu, Tiklas Pileser Babua yang juga bagian dari penyelenggara dan koordinator kegiatan mengatakan, bahwa kampanye penolakan geothermal akan terus disuarakan.

“Komunitas Rakara dan Lentera akan terus mengkampanyekan penolakan geothermal lewat agenda diskusi dan nobar,” terang Tiklas yang juga mantan Ketua GMKI Cabang Jailolo ini.

“Komunitas kami akan menyusun dokumen penolakan yang melibatkan masyarakat adat, selanjutnya kami akan surati ESDM untuk membatalkan proyek ini,” tutupnya.

Kegiatan nobar dan diskusi berlangsung dengan penuh antusiasme. Warga yang hadir terlihat aktif berdialog mengenai ancaman terhadap ruang hidup masyarakat adat serta pentingnya menjaga kawasan Telaga Rano sebagai bagian dari warisan ekologis dan budaya masyarakat Sahu.


Reporter: Pres

nama-iklan

Komentar