HalbarβPerjalanan menuju Air Terjun Goin di Desa Goin, Kecamatan Ibu Utara, Kabupaten Halmahera Barat, bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Ia lebih menyerupai sebuah ziarah kecilβperjalanan yang menuntut kesabaran, rasa ingin tahu, dan sedikit keberanian untuk keluar dari riuhnya dunia yang serba cepat.
Kali ini, perjalanan itu dimulai oleh lima pemuda dengan karakter yang berbeda-beda, seolah mewakili warna-warni kehidupan itu sendiri. Ada Brigita, yang sering dijuluki βagak ke bule-bule-anββgaya bicaranya santai, sesekali bercampur bahasa asing, dengan kacamata hitam yang tak pernah lepas dari wajahnya. Lalu Shanen, si tukang marah, yang meski terlihat mudah tersulut emosi, justru paling sigap saat kondisi sulit datang. Sandi, sang penceramah, berbicara dengan nada tenang layaknya pendetaβsetiap kalimatnya seperti nasihat yang tak diminta tapi selalu relevan. Andre, si βturis asingβ, baru saja kembali dari pelayaran ke beberapa negara, membawa cerita-cerita jauh yang kadang terdengar seperti dongeng. Dan terakhir, si president laefβlaki-laki paling sopan dan murah senyum, yang entah bagaimana selalu mampu mencairkan suasana.
Pagi itu, jalanan masih basah oleh sisa embun. Dari pusat Halmahera Barat, kendaraan yang mereka tumpangi perlahan melaju menuju wilayah Ibu Utara. Di dalam mobil, percakapan tak pernah benar-benar berhenti. Brigita sibuk mengambil gambar, Andre membandingkan jalan ini dengan jalur-jalur yang pernah ia lalui di luar negeri, sementara Sandi sesekali menyelipkan kalimat reflektif tentang perjalanan hidup. Shanen, seperti biasa, mengeluh tentang jalan yang berlubangβmeski pada akhirnya ia juga yang paling cekatan mengarahkan sopir saat kondisi sulit. Si president laef hanya tersenyum, menjadi penyeimbang di antara semuanya.
Aspal mulus tak selalu menemani. Jalan berbatu, berlubang, hingga jalur tanah menjadi bagian dari perjalanan, memaksa kendaraan berjalan pelanβseolah mengingatkan bahwa keindahan memang tak pernah datang dengan cara instan.
Memasuki Desa Goin, suasana berubah drastis. Rumah-rumah sederhana berdiri bersahaja, dikelilingi hijaunya pepohonan dan suara alam yang lebih dominan daripada suara mesin. Warga menyambut dengan senyum hangat. Brigita membalas dengan sapaan ramah yang terdengar setengah lokal, setengah βinternasionalβ. Andre mencoba berbincang dengan rasa penasaran khas seorang pelancong. Sandi tersenyum sambil mengangguk hormat. Shanen? Ia tetap dengan wajah serius, tapi matanya menyiratkan kekaguman. Sementara si president laef, seperti biasa, menebar senyum yang membuat suasana terasa akrab.

Perjalanan belum selesai. Dari desa, langkah kaki menjadi pilihan utama.
Mereka menyusuri jalan setapak yang dibingkai hutan tropis. Akar-akar pohon menjalar di tanah, aliran sungai kecil berbisik pelan, dan burung-burung liar menjadi pemandu tanpa suara. Sesekali terdengar suara Brigita yang kagum melihat sudut-sudut alami yang βinstagramableβ. Andre sibuk menceritakan hutan-hutan di negara lain, namun mengakui bahwa ada sesuatu yang berbeda di siniβlebih hidup, lebih dekat.
Perjalanan tak selalu mudah. Batu licin dan tanjakan curam beberapa kali membuat langkah terhenti. Shanen sempat menggerutu keras, namun justru dialah yang pertama membantu yang lain menyeberangi bagian sulit. Sandi, di sela napasnya, tetap menyelipkan kalimat-kalimat reflektif tentang kesabaran dan tujuan. Si president laef tak henti memberi semangat, sementara Andre dan Brigita menikmati setiap momen seolah ini adalah bagian terbaik dari perjalanan.
Dan ketika suara gemuruh air mulai terdengar dari kejauhan, semuanya terdiam.
Langkah menjadi lebih cepat. Rasa lelah perlahan menghilang. Hingga akhirnyaβAir Terjun Goin menampakkan dirinya.
Ia tidak sekadar jatuh dari ketinggian. Ia hadir dengan keanggunan. Airnya jernih, menghantam bebatuan dengan irama yang menenangkan. Kabut tipis menari di udara, memantulkan cahaya matahari menjadi serpihan keindahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Untuk beberapa saat, kelima pemuda itu kehilangan karakter mereka masing-masing. Tak ada lagi si tukang marah, si penceramah, si turis, si βbule-bule-anβ, atau si president laef. Yang ada hanyalah manusiaβyang berdiri di hadapan alam, merasa kecil, namun sekaligus utuh.
Brigita terdiam, hanya sesekali mengangkat kamera. Shanen duduk di batu, menatap air tanpa keluhan. Sandi tak lagi berbicara, seolah semua nasihat telah dijawab oleh alam. Andre tersenyum, mungkin menyadari bahwa sejauh apa pun ia berlayar, tempat seperti ini tetap tak tergantikan. Dan si president laefβtetap dengan senyum khasnya, namun kali ini lebih dalam, lebih penuh makna.

Di sana, waktu seperti berhenti. Tak ada sinyal, tak ada notifikasiβhanya suara air dan detak jantung yang kembali menemukan ritmenya.
Air Terjun Goin adalah bukti bahwa tidak semua keindahan perlu sorotan. Justru karena ia tersembunyi, ia tetap murni.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Jalan yang sama kini terasa lebih ringan. Candaan kembali mengalir, tawa pecah lebih sering, dan setiap dari mereka membawa sesuatu yang tak terlihatβpengalaman yang melekat, cerita yang akan terus hidup.
Dan mungkin, di sanalah makna sebenarnya: bahwa yang dicari bukan hanya tempatnya, tetapi cerita yang dibawa pulang darinyaβbersama tawa lima pemuda yang, tanpa mereka sadari, telah menjadi bagian dari kisah Air Terjun Goin itu sendiri.
Reporter: Tiklas Babua



































Komentar