Pertahanan AS Kewalahan Hadapi Gempuran Pesawat tak Berawak dan Rudal Iran

Amerika – Analisis Wall Street Journal menunjukkan bahwa penembakan drone dan rudal yang terus-menerus dilakukan Iran jelas telah menantang kemampuan Amerika Serikat untuk mencapai sasaran militernya di negara tersebut dan kemampuannya untuk membela sekutu dan aset di Asia Barat.

Analisis yang diterbitkan pada Selasa (3/3/2026) itu menyatakan bahwa sumber daya militer dan diplomatik AS di Asia Barat berada di bawah tekanan yang meningkat karena Iran melakukan gelombang serangan drone dan rudal berturut-turut terhadap rezim Israel serta aset-aset Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Analisis ini muncul sehari setelah para pejabat di Komando Pusat AS mengkonfirmasi bahwa enam anggota militer kehilangan nyawa mereka setelah serangan pesawat tak berawak terhadap sebuah fasilitas di Kuwait.

Dalam insiden terpisah pada hari yang sama, tiga pesawat tempur F-15 Amerika ditembak jatuh di atas Kuwait.

Serangan tambahan Iran telah menargetkan posisi Amerika di Irak, Arab Saudi, dan Bahrain, sementara Kedutaan Besar AS di Riyadh mengalami kerusakan akibat serangan pesawat tak berawak pada Selasa pagi.

Analisis WSJ menyatakan bahwa insiden-insiden tersebut menunjukkan bahwa kesulitan bagi pasukan Amerika terletak pada upaya menangkal serangan Iran yang meluas di wilayah geografis yang luas, sekaligus menyinkronkan strategi pertahanan udara dengan negara-negara mitra.

Selain melindungi puluhan ribu personel Amerika yang ditempatkan di wilayah tersebut, AS juga harus mengamankan sejumlah kedutaan dan fasilitas pemerintah, demikian menurut analisis tersebut.

Laporan itu mengutip Ravi Chaudhary, mantan Asisten Sekretaris Angkatan Udara yang bertanggung jawab atas instalasi, yang mengatakan bahwa persenjataan rudal balistik Iran yang besar, ditambah dengan drone Shahed yang sarat bahan peledak dan kemampuan perang elektronik, menimbulkan bahaya serius bagi pangkalan-pangkalan Amerika.

Chaudhary mengatakan instalasi-instalasi ini menghadapi tingkat ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik ini, karena Iran telah dengan jelas menunjukkan niat dan cara untuk menargetkan infrastruktur vital dan menghambat kemampuan Amerika untuk memproyeksikan kekuatan udara. Lebih lanjut, tindakan Iran secara efektif telah menghentikan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, jalur penting untuk pengiriman minyak global, menurut analisis tersebut.

Laporan itu menyatakan bahwa skala persediaan senjata Iran, khususnya kemampuannya untuk memproduksi sejumlah besar drone berbiaya rendah, menunjukkan strategi untuk bertahan lebih lama daripada pasukan AS, yang menghadapi penipisan rudal pencegat untuk sistem seperti Patriot dan THAAD.


Sumber: Presstv.ir

nama-iklan

Komentar