Ternate – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Maluku Utara menyampaikan duka mendalam atas kejadian yang terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah karena momentum ini bertepatan hari besar umat Kristiani untuk memperingati wafatnya Yesus Kristus di kayu salib di Bukit Golgota.
Duka mendalam ini disampaikan langsung ketua FKuB Maluku Utara, Adnan Mahmud setelah terjadinya ketegangan warga pada dua desa yakni Desa Banemo dan Desa Sibenpope, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.
“Kami FKUB turut berduka atas kejadian yang terjadi di Halmahera Tengah khususnya Desa Banemo dan Desa Sibenpope, Kecamatan Patani Barat,” ujar Adnan.
Falsafah dari masyarakat Kabupaten Halmahera Tengah atau masyarakat lima negeri yakni, Wada, Patani, Gebe, Maba dan Buli tentang nilai-nilai Fogogoru yang mencerminkan kokohnya satu ikatan persaudaraan.
“Falsafah Fogogoru ini mencerminkan ikatan persaudaraan yang kokoh, sehingga kita berharap kepada masyarakat Halmahera Tengah yang berada di lima negeri tersebut untuk dapat mengembangkan nilai-nilai Fogogoru tersebut,” katanya.
Dirinya juga mengakui, Falsafah yang mencerminkan ikatan persaudaraan ini, dimulai dari sikap gotong royong untuk bersama-sama membangun negeri.
“Maka itu kami mengajak kepada semua untuk mari sama-sama menjaga dan merawat kebersamaan dan kerukunan karena dari situ akan muncul perdamaian yang pada akhirnya dapat membangun apapun yang dapat kita inginkan bersama,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut dirinya juga meminta masyarakat untuk tetap menahan diri dan tidak mudah terprovokasi dengan berbagai isu yang dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah persatuan dan persaudaraan yang telah dibangun selama ini.
Sementara itu, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Maluku Utara, Julianus Mojau dalam kesempatan tersebut menyampaikan, keprihatinan atas insiden yang dialami oleh saudara-saudari terkasih para pihak di Kabupaten Halmahera Tengah.
Julianus yang juga Wakil Ketua FKUB Maluku Utara dalam kesempatan tersebut juga mengajak agar semua pihak mengedepankan komunikasi dialogis dalam menyelesaikan perbedaan dan/atau salah-paham agar situasi segera damai dan tercipta kenyamanan bersama sebagai sesama yang dilandasi oleh nilai-nilai saudara rasai.
Bahkan, yang menjadi kearifan lokal yang sejakan dengan trilogi Kemenag RI: (1) mencintai Tuhan Maha Esa yang pencipta sesama manusia dan alam dengan segala isinya; (2) mencintai sesama umat manusia dan (3) mencintai alam dengan segala isinya.
“Doa kami semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mengaruniakan kearifan kepada semua pihak agar selalu dengan rasa cinta menyelesaikan salah paham/perbedaan bagi terciptanya harmoni kehidupan sehari-hari,” ucapnya mengakhiri.
Sumber: RRI Ternate













Komentar