Ternate – Malam mulai turun di halaman Kedaton Kesultanan Ternate. Angin laut berembus pelan, membawa aroma bambu yang siap dibakar. Di tengah keramaian warga yang berkumpul, ratusan obor bambu perlahan dinyalakan. Api kecil itu kemudian menjalar, memancarkan cahaya hangat yang menari di antara wajah-wajah masyarakat yang hadir.
Di sinilah tradisi Ela-ela kembali digelar, sebuah warisan budaya masyarakat Ternate yang setiap tahun hadir pada malam ke-27 Ramadan. Tradisi ini bukan sekadar festival cahaya, tetapi juga simbol spiritual yang mengiringi masyarakat menyambut malam yang diyakini penuh kemuliaan Lailatul Qadar.
Tahun ini, Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, turut hadir dalam perayaan yang digelar pada Senin malam 16 Maret 2026. Kehadirannya menambah khidmat suasana yang sejak awal sudah dipenuhi nuansa religius dan budaya.
Festival Ela-ela menjadi salah satu tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat Ternate hingga kini. Cahaya obor yang menyala dari bambu atau poci tidak hanya berfungsi sebagai penerang malam, tetapi juga memiliki makna simbolik yang dalam.
Jo Kalem Kesultanan Ternate, Hidayatusalam Sehan, menjelaskan bahwa festival tersebut merupakan bentuk tradisi masyarakat dalam menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.
Menurutnya, menyalakan obor bambu merupakan simbol menyambut cahaya Islam, iman, dan tauhid yang diyakini hadir pada malam penuh berkah tersebut.
“Penyambutan malam Lailatul Qadar ini juga didasarkan pada niat untuk beribadah di malam hari seperti salat dan dzikir,” ujarnya.
Prosesi utama festival ditandai dengan penyalaan obor secara simbolis oleh Hidayatullah Sjah bersama Wakil Gubernur Sarbin Sehe. Turut mendampingi dalam momen tersebut Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Ternate, serta perwakilan instansi vertikal.
Ketika api obor mulai menyala serempak, suasana Kedaton berubah menjadi lautan cahaya. Warga yang hadir tampak larut dalam kekhidmatan, sementara sebagian lainnya mengabadikan momen yang hanya datang sekali setiap Ramadan.
Bagi masyarakat Ternate, Ela-ela bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan modern, nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan tetap memiliki tempat yang kuat.
Di bawah langit malam Ternate, cahaya obor itu seolah menjadi pesan sederhana: bahwa setiap Ramadan selalu membawa harapan, cahaya iman, dan doa yang terus menyala dari generasi ke generasi.
Sumber: RRI Ternate













Komentar