Puasa Ramadhan dan Kebangkitan Peradaban Sains

Ternate – Ramadhan adalah ibadah ritual sekaligus spiritual yang bersifat komprehensif. Ia bukan sekedar kewajiban formal dalam rukun Islam, melainkan perintah ilahiah yang sarat makna, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: diwajibkan atas orang-orang beriman sebagaimana atas umat terdahulu, agar kita mencapai derajat takwa.

Namun, setiap tahun pertanyaan reflektif selalu layak disingkirkan: apa hikmah puasa yang benar-benar kita aktualisasikan?

Jawabannya tentu tidak salah. Puasa membentuk ketakwaan, menghadirkan rahmat dan magfirah, melatih kesabaran dan keikhlasan, menyehatkan jasmani dan rohani, serta mengendalikan hawa nafsu. Semua itu benar dan menjadi cita-cita spiritual setiap umat Islam.

Tetapi apakah hikmah Ramadhan berhenti pada pencapaian ritual pribadi semata?

Bukankah ada dimensi lain yang harus kita lahirkan dalam konteks peradaban modern—peradaban teknologi, era Society 5.0 dan kecerdasan buatan?

Realitas hari ini menunjukkan, setelah Ramadhan berlalu, kita lebih banyak menjadi pengguna teknologi daripada pencipta. Kita menjadi konsumen inovasi yang dikembangkan bangsa lain. Sementara negara-negara maju—baik di Barat maupun Asia Timur berlomba menghadirkan inovasi sains untuk kemanusiaan global, dengan visi besar tentang satu planet dan satu umat manusia.

Paradigma mereka berubah: ilmu pengetahuan menjadi fondasi peradaban. Dan dalam hukum kausalitas sejarah, siapa yang menguasai ilmu, dialah yang memimpin zaman.

Ironisnya, 14 abad lalu Al-Qur’an telah menjadi sumber inspirasi ilmu pengetahuan. Tradisi Islam pernah melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Umar Khayyam, Al-Khwarizmi, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Battani.

Mereka meletakkan dasar-dasar matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat yang kelak menjadi fondasi kebangkitan Eropa abad ke-15, di era René Descartes, Leonardo da Vinci, dan Galileo Galilei.

Sejarah mencatat, kejayaan Islam di abad pertengahan tidak lahir dari ambisi politik, melainkan dari ambisi ilmu pengetahuan. Ketika energi umat terserap dalam konflik kekuasaan dan monarki politik, peradaban justru meredup. Sebaliknya, ketika masjid disertai dengan perpustakaan dan laboratorium, ketika Al-Qur’an dibaca sebagai inspirasi kosmologi dan sains, dunia menyaksikan puncak kejayaan Islam.

Jika relevansi Ramadhan harus dimaknai ulang

Hikmah puasa di era teknologi tidak cukup dimaknai sebagai pengendalian diri dari makan dan minum. Ia harus ditransformasikan menjadi pengendalian diri dari gangguan—dari gemerlap konsumtif kota, pesta kesenangan, dan budaya instan. Puasa sejati di era modern adalah kumpulan dari keramaian yang melalaikan, untuk memasuki ruang-ruang ilmu pengetahuan yang sunyi.

Pertama, puasa harus melahirkan tradisi membaca dan meneliti. Generasi Muslim harus memenuhi perpustakaan baik konvensional maupun digital menggali literatur lintas bahasa, memperkaya referensi, dan membangun kapasitas analitis. Membaca bukan sekadar aktivitas musiman, melainkan disiplin bertahun-tahun.

Kedua, puasa harus mendorong lahirnya budaya laboratorium. Riset dan eksperimen harus menjadi jalan hidup. Dari sana lahirlah inovasi di bidang teknologi informasi, kedokteran, pertanian, perikanan, transportasi, konservasi, hingga eksplorasi antariksa.

Tanpa dua fondasi ini perpustakaan dan laboratorium umat hanya akan menjadi pasar besar bagi produk teknologi global.

Ramadhan sejatinya membentuk generasi yang tahan godaan instan, sabar dalam proses panjang penelitian, dan tekun dalam pencarian kebenaran ilmiah. Semangat lapar dan dahaga adalah simbol disiplin dan daya tahan karakter yang mutlak dibutuhkan dalam dunia sains.

Jika hikmah puasa mampu melahirkan generasi yang “berpuasa dari gangguan” dan “berjihad di ruang ilmu”, maka umat Islam tidak lagi hanya menggunakan bantuan kecerdasan buatan, melainkan menciptakan algoritma. Tidak sekadar pembeli alat utama sistem pemeliharaan, tetapi perancangnya. Tidak hanya konsumen pangan global, tetapi juga inovator teknologi pertanian dan perikanan.

Akhirnya pesan besar yang dibawa Rasulullah SAW sangat jelas, untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, kuncinya adalah ilmu. Untuk menembus batas bumi hingga luar angkasa, kuncinya juga ilmu.

Maka, Ramadhan di abad modern harus kita maknai sebagai momentum kebangkitan peradaban dari ritual menuju intelektual, dari konsumsi menuju inovasi, dari retorika menuju penelitian.

Di sanalah puasa menemukan relevansi sejarahnya.


Oleh: Asisten I Setda Maluku Utara Kadri Laetje

Sumber: RRI Ternate

nama-iklan

Komentar