Ternate – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengimbau seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Maluku Utara meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih terjadi di wilayah Maluku Utara dalam beberapa hari terakhir.
Imbauan itu disampaikan menyusul insiden tenggelamnya kapal KM Gandha Nusantara 17 di perairan Maluku pada Minggu, 15 Maret 2026. Kapal tersebut dilaporkan mengalami gangguan mesin saat menghadapi gelombang tinggi dan angin kencang.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kondisi cuaca saat ini tidak bisa dianggap biasa. Pemerintah daerah harus meningkatkan kesiapsiagaan dan terus memantau perkembangan cuaca,” kata Sherly dalam keterangannya, Senin, (16/3/2026).
Kapal KM Gandha Nusantara 17 diketahui tenggelam sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, kapal tersebut mengalami trouble engine di tengah cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Beruntung, seluruh kru kapal yang berjumlah tujuh orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat oleh kapal KM Sabuk Nusantara 115 yang melintas tidak jauh dari lokasi kejadian. Tim Basarnas Ternate juga turut berkoordinasi dalam proses penyelamatan.
Sherly mengatakan, meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut harus menjadi perhatian seluruh pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Ia meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten dan kota meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait, termasuk BMKG, untuk memastikan informasi cuaca dapat segera disampaikan kepada masyarakat.
“BPBD harus terus memantau kondisi di lapangan, memperbarui informasi cuaca, serta memastikan jalur evakuasi dan rambu peringatan dalam kondisi siap digunakan jika terjadi keadaan darurat,” ujarnya.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Babullah Ternate, wilayah Maluku Utara masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat pada periode 12–18 Maret 2026.
Fenomena tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer regional, termasuk aktivitas Siklon Tropis Nuri di Samudra Pasifik yang memicu perlambatan angin dan penumpukan massa udara di sekitar Maluku Utara sehingga meningkatkan pembentukan awan hujan.
BMKG juga mengingatkan potensi dampak turunan berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang.
Sherly mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir, daerah rawan longsor, serta kawasan dengan pepohonan besar yang berpotensi tumbang.
“Masyarakat juga diharapkan selalu memeriksa prakiraan cuaca sebelum melakukan perjalanan, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD,” pungkasnya.
Sumber: TernateHits




































Komentar