DPC GMNI Halbar Soroti Kenaikan BBM di Tengah Pelemahan Rupiah

Halbar – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Barat (Halbar) menyoroti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang terjadi di tengah tekanan ekonomi dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Rabu (10/6/2026).

Ketua Caretaker DPC GMNI Halbar, Christian Loudrik, menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter serta penyesuaian harga sejumlah BBM non-subsidi lainnya akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan seperti Halbar.

Menurut Christian, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sektor transportasi membuat kenaikan BBM berpotensi memukul berbagai lapisan masyarakat. Banyak warga menggantungkan mata pencaharian sebagai pengemudi ojek, bentor, sopir angkutan, hingga pelaku usaha kecil yang bergantung pada distribusi barang.

“Kenaikan BBM di Halbar tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok karena biaya distribusi ikut meningkat. Pada akhirnya masyarakat kecil yang menanggung beban paling besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan, tetapi juga dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa yang berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat.

Selain itu, Christian turut menyoroti hubungan antara pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM. Menurutnya, ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal sehingga tekanan terhadap harga BBM semakin besar.

“Masyarakat mungkin tidak mengikuti pergerakan kurs setiap hari, tetapi mereka merasakan dampaknya saat harga-harga mulai naik,” jelasnya

Lanjut Tian sapaan akrabnya menambahkan, “Pelemahan rupiah dan kenaikan BBM adalah kombinasi yang berpotensi menekan daya beli masyarakat sehingga melahirkan kemiskinan sistemik,” katanya.

DPC GMNI Halbar juga mengingatkan pemerintah agar tidak hanya memandang persoalan BBM dari sisi fiskal semata, melainkan turut mempertimbangkan dampak sosial yang dirasakan masyarakat, terutama di daerah yang memiliki tantangan distribusi dan transportasi seperti Halbar.

“Kita memang belum berada pada situasi krisis moneter seperti tahun 1998. Namun gejala yang dirasakan masyarakat hampir sama, yakni harga-harga yang terus meningkat sementara pendapatan tidak mengalami kenaikan yang sebanding. Karena itu pemerintah harus lebih serius menjaga daya beli rakyat,” tutup Christian.

GMNI berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi yang terjadi saat ini.


Reporter: Pres

nama-iklan

Komentar