Halbar — Ketua Umum Masyarakat Adat Suku Wayoli Provinsi Maluku Utara (Malut), Rinto Djalali, ST, menyerukan ajakan kuat kepada seluruh masyarakat untuk menjaga perdamaian dan menolak segala bentuk provokasi bernuansa SARA yang belakangan memicu ketegangan di wilayah Halmahera Tengah dan Halmahera Utara.
Seruan ini disampaikan menyusul meningkatnya dinamika sosial di sejumlah titik, termasuk konflik antarwarga yang kembali terjadi di Halmahera Utara pada akhir Maret 2026, yang merupakan rangkaian insiden berulang dalam beberapa tahun terakhirp. Selain itu, sejumlah persoalan struktural seperti konflik lahan di Halmahera Tengah juga turut memperkeruh situasi sosial masyarakat.
Rinto Djalali menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga harmoni sosial.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Maluku Utara, khususnya di Halmahera Tengah dan Halmahera Utara, untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu SARA. Perbedaan adalah kekuatan, bukan alasan untuk konflik,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima media ini, Jumat (3/4/2026).
Ia menambahkan bahwa pengalaman sejarah konflik di Maluku harus menjadi pelajaran berharga agar peristiwa serupa tidak terulang. Seperti diketahui, wilayah Maluku pernah mengalami konflik sosial besar pada periode 1999–2002 yang menimbulkan korban jiwa dan perpecahan antar komunitas.
Dalam pernyataannya, Rinto juga mendorong pendekatan kearifan lokal sebagai solusi utama dalam meredam konflik. Nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat istiadat dinilai mampu menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas daerah.
Ia juga mengapresiasi langkah aparat keamanan dan pemerintah daerah yang telah memfasilitasi dialog lintas elemen masyarakat guna meredam ketegangan di Halmahera Utara. Namun demikian, ia menekankan bahwa perdamaian sejati harus lahir dari kesadaran kolektif masyarakat, bukan semata intervensi struktural.
Lebih lanjut, Rinto Djalali mengajak seluruh tokoh agama, pemuda, dan masyarakat adat untuk aktif menyuarakan pesan damai serta memperkuat ruang-ruang dialog.
“Mari kita rawat tanah Maluku Utara ini sebagai rumah bersama. Jangan biarkan isu SARA merusak persaudaraan yang telah lama terbangun. Perdamaian adalah tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.
Seruan ini diharapkan menjadi penyejuk di tengah situasi yang sensitif, sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk menjaga Maluku Utara tetap aman, damai, dan harmonis.
Reporter: Tiklas Babua
































Komentar