Sofifi — Anggota DPRD Maluku Utara, Aksandri Kitong, menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf atas beredarnya pesan WhatsApp dari grup internal organisasi yang kemudian viral di media sosial. Klarifikasi tersebut disampaikan melalui sambungan telepon whatsApp, Senin (1/4/2026), menyusul ramainya sorotan publik atas isi percakapan yang dinilai memicu polemik.
Aksandri menegaskan, pesan yang beredar itu merupakan bagian dari dinamika komunikasi internal Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Halmahera Utara yang saat itu tengah membahas perbedaan pandangan terkait rencana aksi demonstrasi.
“Dalam grup GAMKI itu ada perbedaan pendapat. Saya sempat melakukan pertemuan dengan teman-teman tokoh pemuda Islam di Tobelo untuk mencari jalan agar rencana aksi demonstrasi tidak dilaksanakan. Namun ternyata ada anggota GAMKI yang tidak setuju dengan langkah tersebut,” kata Aksandri.
Ia mengungkapkan, perbedaan pandangan di dalam grup kemudian berkembang menjadi perdebatan yang berujung pada serangan personal terhadap dirinya. Kondisi itu, menurutnya, memicu respons emosional yang lalu tersebar luas dan menjadi perbincangan publik.
“Dia menyerang saya secara pribadi dan menantang baku hantam. Saya kemudian membalas dengan kalimat ‘baku bunuh suda’ karena dia juga menyebut saya dengan kata-kata yang tidak pantas,” ujarnya.
Aksandri menegaskan, kalimat tersebut ditujukan secara personal kepada anggota yang bersangkutan, bukan kepada pihak lain sebagaimana yang berkembang di ruang publik.
Terkait polemik kehadiran dalam kegiatan literasi yang melibatkan Wakil Bupati Halmahera Utara, Kasman Hi. Ahmad, Aksandri menjelaskan bahwa GAMKI saat itu memilih tidak menghadiri kegiatan tersebut sebagai bentuk respons atas tidak adanya tanggapan terhadap permintaan audiensi sebelumnya.
“Terkait dengan Wakil Bupati, sikap GAMKI saat itu adalah tidak perlu hadir di acara literasi karena beliau tidak merespons komunikasi kami terkait dengan audensi rencana aksi yang akan digelar pada hari ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, audiensi itu diinisiasi GAMKI untuk mempertemukan pemuda Kristen dan pemuda Muslim sebagai langkah preventif meredam potensi konflik di tengah situasi yang berkembang.
“Audiensi itu dari GAMKI menginisiasi agar supaya ada pertemuan antara pemuda Kristen dan pemuda Muslim,” ujarnya.
Menurut Aksandri, pihaknya juga telah meminta Wakil Bupati untuk memfasilitasi pertemuan tersebut, namun permintaan itu tidak mendapat respons.
“Untuk itu saya minta Pak Kasman selaku tokoh Muslim di Halmahera Utara dan juga sebagai Wakil Bupati untuk memediasi masalah ini agar kita bisa duduk bersama sehingga tidak ada demo, tapi beliau tidak mengindahkan atau tidak merespons permintaan kami untuk bertemu,” ungkapnya.
Sebagai langkah lanjutan, GAMKI kemudian melakukan konsolidasi internal guna meredam ketegangan dan menyatukan kembali sikap organisasi.
“Akhirnya saya meminta Sekretaris GAMKI bersama teman-teman untuk melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi, dan pertemuan pada hari Minggu itu berjalan dengan baik,” jelasnya.
Meski demikian, Aksandri menyayangkan kehadiran Sekretaris GAMKI dalam kegiatan literasi tersebut, karena dinilai bertentangan dengan sikap organisasi yang sebelumnya telah diputuskan.
“Masalah ini belum selesai sepenuhnya, namun yang bersangkutan justru menghadiri kegiatan tersebut,” katanya.
Ia mengakui undangan kegiatan literasi telah disampaikan secara resmi kepada GAMKI. Namun karena permintaan audiensi tidak direspons, organisasi tetap memilih tidak hadir.
“Memang Pak Kasman mengundang kami secara resmi. Tetapi karena ketika kami minta waktu audiensi beliau tidak merespons, maka kami bersikap tidak perlu datang di acara literasi,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Aksandri menegaskan bahwa ungkapan emosional dalam percakapan grup internal itu diarahkan kepada Sekretaris GAMKI, sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Maluku Utara atas polemik yang timbul.
“Kalimat itu bentuk kemarahan saya kepada sekretaris GAMKI karena hadir di acara itu. Sebelumnya dia bilang tidak hadir, jadi saya merasa seperti dibohongi,” pungkasnya.
Reporter: Tiklas Babua











Komentar