Perjalanan Panjang Ibu Guru Derci Samderubun dan Berhasil Menuju PPPK

HarianMalut, Sofifi – Di usia yang sudah tak muda lagi, Derci Samderubun, S.Th., justru menorehkan langkah baru yang membanggakan. Perempuan kelahiran Sosol, Malifut, Halmahera Utara, 30 April 1970 ini akhirnya menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) formasi guru.

Ia menjadi salah satu dari tiga orang yang menerima SK langsung dari Gubernur Maluku Utara Sherly Laos dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe, pada Jumat (23/5/2025).

Namun siapa sangka, sebelum SK itu datang, perjalanan hidup Derci adalah kisah ketekunan, air mata, dan keteguhan iman yang tak mudah dilalui.

Derci bercerita, bahwa dirinya menjadi seorang guru di usia 40 tahun, setelah menyelesaikan S1 di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Palu, Sulawesi Tengah.

“Baru tahun 2009 saya selesai kuliah, saat usia hampir menginjak 40 tahun,” ucao Derci dengan senyum hangat saat bincang-bincang dengan reporter rri.co.id. Setelah menyelesaikan studi teologi, ia kembali ke kampung halamannya dan mulai mengajar di sekolah dasar.

Perjalanan menjadi guru bukanlah jalan yang mulus. Ia memulai karier dari sekolah dasar, lalu berpindah ke berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, SMP, hingga mengajar agama Kristen di SMK Negeri 2 Halmahera Utara.

“Jadi saya masuk di sana awal tahun 2010, dan sejak itu saya alami banyak suka duka,” kenangnya.

Honor pertamanya hanya Rp250 ribu per bulan, kemudian naik menjadi Rp350 ribu dan Rp500 ribu. Bahkan, pernah ada masa di mana ia tak digaji sama sekali selama dua tahun. Namanya dan beberapa guru lainnya tak terdaftar di sistem Dapodik, membuat mereka tak diakui dalam administrasi pendidikan nasional.

“Saya tidak tahu kenapa nama kami hilang. Tapi satu hal saya pahami, Tuhan selalu ada dalam setiap proses kehidupan,” ujarnya lirih.

Berkat bantuan seorang operator sekolah bernama Bapak Lairo di Ternate, nama Derci akhirnya masuk kembali dalam data Dapodik dan tercatat sebagai guru honor daerah (Honda). Namun, perjuangan tak berhenti di situ. Selama 10 bulan, ia kembali tidak menerima gaji.

Meski dalam tekanan, ia tetap mengajar di SD, SMP, bahkan sebagai guru Sekolah Minggu di gereja. Ia juga sempat mengajar di SMP Informatika, namun mengundurkan diri karena ada masalah sinkronisasi data di sistem Dapodik.

Derci merasa, pengangkatan PPPK tahun ini adalah hadiah besar dari Tuhan. “Usia saya sudah kepala lima, menuju kepala enam. Ini luar biasa bagi saya,” tuturnya penuh syukur.

Tak ada calo atau pihak manapun yang membantunya dalam proses seleksi PPPK. Semua berjalan murni melalui operator sekolah yang setia membimbingnya melengkapi dokumen.

Tak lupa, Derci juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemprov Maluku Utara, khususnya kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) yang selalu memberikan informasi selama ini, sehingga mereka dapat menyiapkan diri dengan baik mengikuti seleksi PPPK.

Sebagai bentuk terima kasih, ia menyampaikan pesan hangat kepada Gubernur Maluku Utara. “Ibu Sherly Laos bukan hanya pemimpin yang cantik, tapi punya hati luar biasa. Saya sering like postingannya, dan selalu berdoa, Tuhan berkati Ibu dalam tugas dan keluarga.”

Perjalanan hidup Derci Samderubun adalah gambaran nyata tentang keteguhan seorang guru di daerah. Dalam sunyi dan minim fasilitas, ia bertahan demi mendidik generasi.

Kisahnya bukan hanya soal pengangkatan PPPK, tapi tentang dedikasi, iman, dan cinta terhadap profesi guru yang tak tergoyahkan oleh usia maupun keadaan. Derci bukan sekadar guru biasa, ia adalah pelita kecil di sudut Halmahera yang tak pernah padam.

KBRN

nama-iklan

Komentar